Linguafranca28’s Blog

BLOG PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Kompromi I November 10, 2009

Filed under: Catatan Kecil — linguafranca28 @ 4:35 am

30102009128

Hidup adalah kompromi, mungkin ini hanyalah pendapatku. Tapi itulah yang sering kurasakan. Kita berkompromi dengan semua yang kita temui. Kita berkompromi dengan seluruh anggota keluarga kita, dengan tetangga, teman bahkan dengan orang yang kita baru kenal sekalipun.

Bagaimana kita berkompromi dengan orang yang baru kita kenal, ketika kita tanpa sengaja berada di tempat umum, kita bertemu dengan orang yang beraneka ragam sifat dan tingkahnya.

Kita berkompromi dengan tetangga yang tentu saja memiliki kebiasaan yang tidak sama dengan kita. Contohnya kita belajar terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh tetangga kita. Mulai dari suara pagar yang memekakan telinga, suara tape recorder yang sangat kencang padahal kita tidak suka dengan lagu yang tetangga kita putar. Atau bagaimana tetangga kita menghadapi anaknya, berteriak dan memaki.Kita hanya mampu mengelus dada dan mencoba memahami apa yang terjadi.

Kita berkompromi dengan keluarga, dengan suami, istri bahkan anak-anak. Mungkin, ini salah satu alasan kenapa aku menulis tulisan ini. Dari kecil sampai aku dewasa bahkan memiliki dua orang anak, aku tidak suka dengan binatang jenis apa pun. Dan anehnya suami dan anak-anakku menyukai binatang terutama anakku yang sulung . Anakku menyukai semua jenis binatang tanpa rasa takut dan jijik.

Binatang yang paling dia sukai sejak kecil adalah kuda, pernah suatu kali, ketika dia dikhitan. Anakku tidak ingin dirayakan dia hanya minta memelihara kuda. Sesuatu yang tidak mungkin kupenuhi, ku katakan, “mau disimpan dimana kudanya.” Dia menjawab, ” dibelakang rumah aja, biarin nanti pulang sekolah Eca yang mengambil rumputnya.” Dibelakang rumah, hanyalah gang sempit yang membatasi dengan rumah dibelakangku.

Sebagai kompromi, setiap minggu atau hari libur, kami mengantarnya naik kuda sampai bosan.  Setelah tak mendapat  restu memelihara kuda, anakku meminta izin untuk memelihara anjing. Tentu saja izin untuk memelihara binatang tak pernah keluar dariku. Aku bisa berkompromi dalam hal apa pun tapi tidak untuk memelihara binatang kecuali sejenis ikan. Dengan bertambahnya usia dan dia tahu bahwa sebagai seorang muslim tidak baik memelihara anjing. Pilihan dijatuhkan kepada kucing ,  tetap saja aku tidak bisa menerima untuk memelihara kucing. Akhirnya, ketika di sekolahnya di adakan Family Day dan di sana ada penjual kura-kura Brazil ( sejenis kura-kura kecil). Aku mengizinkan untuk memeliharanya.

Empat tahun kura-kura itu menjadi teman anakku. Bertambahlah kegiatan anakku, memandikan dan memberikan makanan setiap pulang sekolah. Hingga suatu hari setelah dimandikan,  anakku menata karang-karang yang ada dalam tempat kura-kura. Entah terlalu tinggi karang yang dia tata…hingga kura-kura tersebut naik dan akhirnya hilang. Betapa sedihnya anakku, seisi rumah turut membantu mencarinya. Yang menyedihkan adalah setiap sore atau ketika hujan turun, anakku berdiri di teras rumah menunggu dan berharap kura-kura yang hilang pulang. Kebiasaan tersebut berlangsung cukup lama, dan terus terang membuatku merasa kasihan.

Aku berniat mengganti kura-kura yang hilang, tapi anakku menolaknya. Ternyata kehilangan binatang kesayangan mengguratkan kesedihan yang sangat mendalam bagi anakku. Bahkan dia berkata,” tidak mau lagi memelihara kura-kura.”

Suatu hari, anakku menghampiriku sambil berkata,” mah, Eca pengin punya binatang peliharaan lagi.”

Saat itu aku hanya terdiam, sebenarnya hati kecilku merasa iba mendengaranya. apalagi diucapkan dengan suara yang memelas.

“Binatang apa…? ” tanyaku.

“Anjing….nggak boleh, gimana kalau kucing?” ujarnya berbinar.

“Nggak akh,” jawabku cepat. Walaupun dalam hatiku merasa tidak tega.

Setiap hari, di sela-sela waktunya atau ketika anak-anak sebayanya bermain game.Anakku mengumpulkan gambar-gambar binatang  terutama anjing dan kucing dari internet. Bahkan dia sampai hapal jenis anjing dan kucing, kebiasaan-kebiasaannya , keturunannya sampai hapal. Dan satu hal lagi, cita-citanya kelak adalah menjadi dr. Hewan.

Walaupun sering diledek oleh saudara-saudaraku,tentang cita-citanya. Anakku tak bergeming dia tetap bersikukuh dengan cita-citanya. Mungkin hal inilah yang membuatku berkompromi untuk memelihara binatang. Aku mengalah, mengijinkan anakku untuk memelihara binatang. Pilihan jatuh pada kucing, bisa dibayangkan bagaimana aku menghalau rasa takut terhadap kucing. Dua malam pertama kehadiran kucing, aku tidak bisa tidur, takut kucing itu menghampiriku. Aku seringkali terjaga….takut, tiba-tiba kucing tersebut ikut tidur disampingku.

Dan, tiba-tiba rasa sayangku pada Bricko, nama kucing yang diberikan oleh anakku, muncul begitu saja. Bahkan aku sekarang terbiasa menggendongnya. Bahkan memandikannya, memotong kukunya. Ternyata sangat menyenangkan dan betapa indahnya kompromi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s