Ketika aku tak mampu menafsir tanda-tanda yang menghampiriku, sebenarnya bukan aku tak mampu. Tapi, aku menutup mata dan telingaku untuk sekadar membaca setiap tanda yang menghampiriku. Aku enggan memahami, aku enggan membuka mata barang sejenak untuk melepas semua mimpi-mimpi yang menghampiriku.
Alasannya sederhana, bahkan sangat sederhana. Aku menikmati semua mimpi itu, dan setiap detik aku membangun mimpi-mimpi itu. Akhirnya mimpi itu mencengkeramku, membelitku, membelenggu bahkan mengalir dalam tiap aliran darahku. Terlalu lama aku bermimpi, waktuku tak berbilang lagi dan sepertinya harus ku akhiri semua mimpi ini.
Lalu,…..Ketemukan kertas buram yang kumal dan kusam…….memuat penggalan kisah…
Untuk sahabatku…. (more…)




Recent Comments