Hidup adalah kompromi, mungkin ini hanyalah pendapatku. Tapi itulah yang sering kurasakan. Kita berkompromi dengan semua yang kita temui. Kita berkompromi dengan seluruh anggota keluarga kita, dengan tetangga, teman bahkan dengan orang yang kita baru kenal sekalipun.
Bagaimana kita berkompromi dengan orang yang baru kita kenal, ketika kita tanpa sengaja berada di tempat umum, kita bertemu dengan orang yang beraneka ragam sifat dan tingkahnya.
Kita berkompromi dengan tetangga yang tentu saja memiliki kebiasaan yang tidak sama dengan kita. Contohnya kita belajar terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh tetangga kita. Mulai dari suara pagar yang memekakan telinga, suara tape recorder yang sangat kencang padahal kita tidak suka dengan lagu yang tetangga kita putar. Atau bagaimana tetangga kita menghadapi anaknya, berteriak dan memaki.Kita hanya mampu mengelus dada dan mencoba memahami apa yang terjadi.
Kita berkompromi dengan keluarga, dengan suami, istri bahkan anak-anak. Mungkin, ini salah satu alasan kenapa aku menulis tulisan ini. Dari kecil sampai aku dewasa bahkan memiliki dua orang anak, aku tidak suka dengan binatang jenis apa pun. Dan anehnya suami dan anak-anakku menyukai binatang terutama anakku yang sulung . Anakku menyukai semua jenis binatang tanpa rasa takut dan jijik.
Binatang yang paling dia sukai sejak kecil adalah kuda, pernah suatu kali, ketika dia dikhitan. Anakku tidak ingin dirayakan dia hanya minta memelihara kuda. Sesuatu yang tidak mungkin kupenuhi, ku katakan, “mau disimpan dimana kudanya.” Dia menjawab, ” dibelakang rumah aja, biarin nanti pulang sekolah Eca yang mengambil rumputnya.” Dibelakang rumah, hanyalah gang sempit yang membatasi dengan rumah dibelakangku. (more…)












